Surabaya – Masyarakat Tionghoa di Surabaya masih menjaga esensi perayaan Imlek dengan penuh suka cita. Meski tradisi kini sering disesuaikan agar lebih praktis bagi keluarga inti, makna doa untuk masa depan tetap tersaji hangat di atas meja makan melalui beragam hidangan khas.
Empat sajian dari Surabaya berikut menjadi menu ikonik yang hampir selalu hadir saat tahun baru Imlek, karena dipercaya membawa keberuntungan, kesehatan, dan kemakmuran bagi keluarga.
Empat Kuliner Khas Surabaya Saat Perayaan Imlek
Dari hidangan simbol keberuntungan hingga menu yang melambangkan panjang umur dan kemakmuran, berikut empat kuliner khas Imlek di Surabaya yang masih sering hadir dalam perayaan tahun baru China, dirangkum dari berbagai sumber.
1. Ikan Utuh (Yú)
Ikan disajikan secara utuh, dari kepala hingga ekor, dengan etika khusus saat disantap. Kepala ikan biasanya diarahkan kepada anggota keluarga tertua sebagai bentuk penghormatan sekaligus simbol permohonan berkat. Dalam budaya Tionghoa, kata ikan (yú) memiliki pelafalan yang sama dengan kata “surplus” atau keberlimpahan.
Ikan Bandeng yang banyak dicari saat perayaan imlek Foto: Agung Pambudhy
Menariknya, ikan ini tidak boleh dihabiskan dalam sekali makan. Sebagian harus disisakan sebagai lambang harapan agar rezeki keluarga tidak pernah terputus dan terus mengalir sepanjang tahun. Jenis ikan seperti bandeng atau kakap sering menjadi pilihan karena dianggap melambangkan kemakmuran.
2. Yu Sheng (Yee Sang)
Yu Sheng merupakan hidangan musiman yang biasanya hanya muncul di awal tahun. Salad warna-warni ini terdiri dari sekitar 27 jenis bahan, seperti lobak, wortel, jahe, hingga irisan salmon segar menyerupai sashimi, yang mencerminkan perpaduan budaya kuliner Asia Tenggara.
Ilustrasi Yu Sheng Foto: Padma Hotel Semarang
Ritual makannya dikenal dengan sebutan Lo Hei. Seluruh anggota keluarga berdiri mengelilingi piring besar, mengaduk bahan, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi dengan sumpit sambil berseru, “Lo hei, lo hei!” (angkat ke atas). Kepercayaan populer menyebutkan bahwa semakin tinggi bahan makanan terangkat, semakin tinggi pula keberuntungan yang diraih di tahun baru.
3. Lumpia Goreng
Lumpia goreng bukan sekadar camilan, tetapi juga simbol keberuntungan. Bentuknya silinder dengan warna cokelat keemasan menyerupai batangan emas, sehingga melambangkan kekayaan finansial.
Lumpia Goreng Foto: Instagram
Di Surabaya, lumpia biasanya berisi daging ayam cincang, jamur kuping, suun, serta bumbu aromatik seperti saus tiram dan kecap asin. Isian padat dalam balutan kulit renyah menciptakan harmoni rasa gurih yang melambangkan kebersamaan dan solidaritas keluarga.
4. Manisan Segi Delapan (Chyuhn Haap)
Manisan segi delapan hampir selalu hadir saat momen open house Imlek. Wadahnya berbentuk segi delapan karena angka delapan dipercaya melambangkan kesatuan, kesempurnaan, dan keberuntungan yang tak terputus. Setiap isian di dalamnya membawa doa spesifik sebagai berikut.
Melon dan biji teratai melambangkan kesehatan dan kesuburan.
Jeruk kumquat dan koin cokelat merupakan simbol kemakmuran dan kekayaan.
Kelapa dan leci menandakan ikatan kekeluargaan yang harmonis.
Kacang tanah doa untuk umur panjang bagi seluruh anggota keluarga.
Konon, seluruh isi kotak manisan sebaiknya dihabiskan dalam dua minggu setelah tahun baru Imlek agar keberuntungan yang diharapkan benar-benar terwujud.
Itulah empat hidangan ikonik Imlek khas Surabaya yang tak hanya lezat, tetapi juga sarat makna simbolis. Dari ikan utuh hingga manisan segi delapan, setiap sajian menyimpan doa tentang rezeki, kesehatan, dan keharmonisan keluarga di tahun yang baru

