Yogyakarta,mediakorannusantara.com-Kodam XXI/Raden Inten menyatakan bahwa Jembatan Perintis Garuda yang menghubungkan Pekon Sukoharjo IV dengan Pekon Jogjakarta di Kabupaten Pringsewu kini sudah dapat digunakan oleh masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Pangdam XXI/Raden Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, dalam keterangan yang diterima di Provinsi Lampung pada Senin, menjelaskan bahwa jembatan di Pringsewu ini merupakan Jembatan Perintis Garuda kedua yang diresmikan di wilayahnya, setelah sebelumnya jembatan serupa dibangun di Pekon Way Umbar, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus.
Pembangunan infrastruktur ini merupakan bagian dari program besar TNI Angkatan Darat. Kristomei mengungkapkan bahwa pembangunan jembatan ini diresmikan secara serentak bersama 200 jembatan lainnya di seluruh Indonesia. “Hari ini kami melaksanakan peresmian jembatan yang dipimpin langsung oleh Bapak Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) secara serentak untuk pembangunan 200 jembatan di seluruh Indonesia,” kata Kristomei.
Lebih lanjut, ia berharap jembatan ini dapat mempermudah akses masyarakat, khususnya dalam mendukung kegiatan ekonomi dan mobilitas para pelajar. Ia menegaskan, “Harapannya masyarakat di Pekon bisa memanfaatkan jembatan ini untuk aktivitas perekonomian, terutama anak-anak sekolah agar aksesnya lebih cepat dan mudah.”
Apresiasi juga datang dari Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas, yang merasa terbantu dengan kolaborasi antara TNI dan pemerintah daerah. Riyanto menceritakan kesulitan yang selama ini dihadapi warga sebelum adanya jembatan permanen tersebut. “Sebelumnya akses penyeberangan di lokasi itu sering terputus ketika debit sungai meningkat. Bahkan kalau banjir warga nyaris tidak bisa melakukan kegiatan karena sungainya meluap. Kemudian saat air surut, warga biasanya menyeberang menggunakan getek,” ungkapnya.
Dengan hadirnya jembatan baru ini, Riyanto meyakini sektor-sektor vital seperti pertanian, perikanan, peternakan, hingga pendidikan akan sangat terbantu karena warga tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh atau bertaruh nyawa menyeberangi sungai. Ia menambahkan, “Anak-anak yang sekolah juga lebih mudah aksesnya. Begitu juga aktivitas ekonomi warga, seperti membawa pupuk atau hasil pertanian, tidak perlu memutar jauh lagi.( wa/ar)

