INDRAMAYU — Tokid (63), bersama rekannya Jahidin (48), setiap hari setia menjaga perlintasan kereta api di Desa Cikedung Lor tanpa palang pintu. Di bawah terik matahari maupun hujan, ia tetap berdiri di jalan yang hanya dibatasi bambu sepanjang 4 meter demi memastikan keselamatan pengendara yang melintas.
Aktivitas ini dimulai pukul 06.00–12.00 WIB, dilakukan bergantian secara bergilir bersama warga lainnya, tanpa mengenal libur. Meski hanya memperoleh uang receh dari pengendara atau terkadang menerima makanan, hal itu tetap dijalani Tokid sebagai misi penyelamatan nyawa sesama.
“Menyelamatkan orang lewat. Senang rasanya membantu sesama,” ujar Tokid saat ditemui di lokasi, Jumat (13/2/2026).
Dia menjelaskan pendapatannya tidak menentu — jika perolehan hari itu sekitar Rp50 ribu, sudah dianggap bersyukur untuk kebutuhan sehari-hari bersama keluarga. Pengabdiannya telah berlangsung sejak 2018 dan berperan penting menurunkan angka kecelakaan di jalur tersebut.
Tokid mengakui sebelum ada sistem penjagaan sederhana ini, jalur itu sering memakan korban — baik pengendara maupun pejalan kaki — karena tidak ada yang berjaga saat kereta melintas. Dengan pembagian tugas dalam empat sif, masing-masing tim menjaga selama enam jam.
Misi penyelamatan yang dilakukan Tokid dan rekan-rekannya pun bukan sekadar soal keselamatan orang lain, tetapi juga demi kebutuhan hidup sendiri: memastikan keluarga mereka tetap makan setiap hari meskipun penghasilan tidak menentu.

