SURABAYA, memo- news.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Hang Tuah melalui Kementerian Luar Negeri menyelenggarakan kegiatan Panggung Pemikir 2026 pada Selasa (7/4/2026) di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah. Kegiatan ini mengangkat tema “Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan serta Kemaritiman di Indonesia”.

Forum ini menjadi ruang diskusi terbuka antara mahasiswa dan narasumber untuk membahas berbagai persoalan lingkungan dan kelautan yang tengah dihadapi Indonesia.
Hadir sebagai narasumber, Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Timur, Pradipta Indra Ariono, serta dosen Fakultas Hukum Universitas Hang Tuah, Ilham Dwi Rafiqi. Diskusi dipandu oleh Wakil Presiden Mahasiswa, Mochamad Dewa Surya.

Ketua pelaksana kegiatan, Rangga Kadek Ar-rozaaq, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen BEM dalam menghadirkan ruang diskusi kritis dan solutif bagi mahasiswa.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya memahami permasalahan, tetapi juga mampu merumuskan gagasan serta kontribusi nyata dalam menjawab tantangan lingkungan dan kemaritiman di Indonesia,” ujarnya.
Sambutan juga disampaikan oleh Pembina BEM Universitas Hang Tuah, Farizah Izazi, yang menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga keseimbangan antara
pembangunan dan kelestarian lingkungan.
“Kampus tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kepedulian sosial. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat,” katanya.
Presiden Mahasiswa Universitas Hang Tuah, Raihan Asfi Priadi, turut menegaskan bahwa isu lingkungan dan kemaritiman merupakan tanggung jawab bersama.
“Mahasiswa harus kembali pada perannya sebagai agent of change yang mampu berpikir kritis, bersuara, dan terlibat langsung dalam merespons berbagai persoalan sosial dan lingkungan,” ujarnya.
Dalam sesi pemaparan, Pradipta Indra Ariono menyoroti krisis ekologis akibat eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan.
“Kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini bukan hanya persoalan alam, tetapi juga persoalan kemanusiaan. Ketika lingkungan rusak, masyarakat kecil yang paling terdampak,” jelasnya.
Sementara itu, Ilham Dwi Rafiqi memaparkan konsep blue justice sebagai pendekatan pembangunan maritim yang berkeadilan, dengan menekankan perlindungan terhadap masyarakat pesisir dan nelayan.
Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab. Mahasiswa tampak antusias menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait isu lingkungan dan kemaritiman.
Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung tertib dan dinamis. Forum ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran kritis mahasiswa serta mendorong keterlibatan aktif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan pembangunan maritim di Indonesia.(***)
