SURABAYA – Hujan turun perlahan di kawasan Barata Jaya, Gubeng, Surabaya, Selasa (24/2/2026). Di depan sebuah rumah sederhana yang bagian depannya dijadikan warung kopi, Novan Bayu Aji (29) duduk di bangku panjang sembari menunggu waktu mengajar.
Dengan kaus oblong dan celana pendek, pria lulusan Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Ampel Surabaya itu tampak sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan tekad kuat untuk terus menjadi guru, meski kesejahteraan masih jauh dari kata cukup.
“Aku guru wali kelas, terus guru mengaji di TPQ juga. Kalau Ramadhan memang pulangnya bisa sampai pukul 10.00 WIB,” ujarnya pelan.
Dari Karyawan ke Guru
Perjalanan Novan menjadi pendidik bukan tanpa liku. Ia sempat bekerja sebagai karyawan pada 2019. Namun, pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Kontraknya tidak diperpanjang pada 2023.
Alih-alih mencari pekerjaan lain yang mungkin lebih menjanjikan secara finansial, Novan justru memutuskan menjadi guru di sebuah SMP swasta.
Dorongan itu datang dari orangtuanya.
“Orangtua bilang, guru itu memang gajinya enggak banyak, tapi pekerjaan yang terhormat. Mungkin karena mereka enggak sekolah, jadi lebih menghargai guru,” kenangnya.
Mengajar Seharian, Mengaji Tiga Kali Sepekan
Setiap hari, Novan mengajar mata pelajaran umum mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB. Setelah istirahat dan shalat—yang sering ia imami—ia melanjutkan mengajar ngaji di Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) SD Al-Islam dengan metode tilawati, tiga kali dalam sepekan.
Rutinitas itu dijalani dengan penuh kesabaran. Anak-anak yang berlarian, bercanda, bahkan bernyanyi saat mengaji sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
“Namanya anak-anak, fokusnya paling satu jam. Setelah itu saya yang harus cari cara supaya mereka tetap semangat,” katanya sambil tersenyum.
Bertahan dengan Penghasilan Minim
Ketika hujan semakin deras, Novan mengajak berbincang masuk ke dalam rumah bibinya—tempat ia kini menumpang tinggal.
“Gaji pokok saya Rp 600.000 per bulan. Mengajar ngaji dapat Rp 200.000. Kalau dihitung ya jelas enggak cukup,” ujarnya jujur.
Namun, soal penghasilan bukan alasan untuk berhenti. Baginya, kebahagiaan melihat anak didik mulai memahami bacaan Al Quran adalah kepuasan yang tak ternilai.
“Pas mereka jadi paham, itu rasanya enggak bisa dibayar,” ucapnya.
Pegang Teguh Pesan dan Keyakinan
Ada satu kalimat yang selalu dipegang Novan hingga kini:
“Sebaik-baiknya orang adalah yang belajar dan mengajarkan Al Quran. Satu huruf yang diajarkan bisa jadi amal jariyah yang enggak terputus,” tuturnya.
Ia mengaku tak mempermasalahkan jika mengajar ngaji tak dibayar oleh sekolah atau pemerintah.
“Saya enggak peduli soal itu. Yang penting anak-anak saya ajari. InsyaAllah lillah,” pungkasnya.
Di tengah realitas kesejahteraan guru yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama, Novan memilih bertahan. Bukan karena cukup, tetapi karena yakin pada nilai pengabdian.
Dan di bangku panjang depan warung kopi itu, ia terus menunggu waktu untuk kembali mengajar—menyalakan cahaya kecil bagi masa depan anak-anak didiknya.(Imam )

