Jombang – Di tengah padatnya agenda pemerintahan selama bulan suci Ramadhan, Wakil Bupati Jombang, Salmanudin Yazid atau yang akrab disapa Gus Salman, tetap menjaga tradisi mengaji bersama para santri.
Sejak 1 Ramadhan, Gus Salman secara intensif memimpin kajian Kitab Jawahirul Bukhari di Pesantren Babussalam, Kalibening, Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Kajian tersebut ditargetkan rampung pada malam 17 Ramadhan, bertepatan dengan peringatan Nuzulul Quran.
Dalam kesehariannya, Gus Salman tak hanya menjalankan amanah sebagai wakil kepala daerah, tetapi juga sebagai pengasuh pesantren yang menaungi lebih dari 1.100 santri dari berbagai daerah di Indonesia.
Menjaga Amanah dan Akar Identitas
Latar belakangnya sebagai santri serta pengabdiannya di lingkungan pesantren sejak 1999 membentuk karakter kepemimpinan yang kuat. Meski kini menjabat sebagai Wakil Bupati Jombang dan Ketua PCNU Jombang, ia menegaskan tidak ingin meninggalkan akar identitasnya sebagai pendidik.
Menurutnya, rutinitas mengaji tersebut merupakan bentuk menjalankan pesan orang tua.
“Dalam kesibukan apa pun, jangan pernah meninggalkan ngaji bersama santri,” pesan itu yang selalu ia pegang teguh.
Bagi Gus Salman, mengajar hadis bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan bagian dari pengabdian yang tidak dibatasi waktu dan jabatan.
Pengabdian Tanpa Batas
Setiap malam, selepas memimpin kajian, Gus Salman menutup kitabnya dan bersiap kembali menjalankan tugas negara keesokan harinya. Namun di mata para santri, ia tetap sosok guru yang konsisten membagikan “permata” ilmu di tengah hiruk-pikuk jabatan publik.
Baginya, jabatan adalah titipan sementara. Sementara mengajar dan membimbing santri adalah amanah yang akan terus dijaga, bahkan ketika masa jabatan telah usai.
Istiqomah Gus Salman di bulan Ramadhan ini menjadi teladan bahwa pengabdian kepada masyarakat dan pengabdian dalam bidang keilmuan dapat berjalan beriringan.(*** )

