SUMEDANG, Memo- news.com – Kuliner khas dari Sumedang, tahu Sumedang, tetap menjadi favorit masyarakat di tengah tantangan kenaikan harga bahan baku.
Tahu Sumedang dikenal memiliki ciri khas tekstur renyah di bagian luar dan lembut di bagian dalam. Saat digigit, kulitnya terasa garing dengan bagian dalam yang kosong dan ringan, menciptakan sensasi rasa yang khas.

Biasanya, tahu Sumedang disajikan dalam kondisi hangat, ditemani cabai rawit atau sambal kecap. Kesederhanaan ini justru menjadi daya tarik yang membuatnya digemari lintas generasi.
Sejarah tahu Sumedang tak lepas dari peran perantau asal China, Ong Kino, yang memperkenalkan produksi tahu di daerah tersebut pada awal abad ke-20. Sejak saat itu, tahu Sumedang berkembang menjadi ikon kuliner sekaligus sumber penghidupan masyarakat setempat.
Salah satu sentra penjualan tahu Sumedang berada di sepanjang Jalan Mayor Abdurahman. Di kawasan ini, pembeli dapat menemukan tahu yang dijual dalam kondisi segar langsung dari penggorengan.
Seorang pengunjung, A.R. (34), mengaku selalu menyempatkan diri membeli tahu Sumedang saat melintas di kawasan tersebut.
“Rasanya khas, beda dengan tahu di daerah lain. Apalagi kalau masih hangat, gurihnya terasa banget,” ujarnya.
Pengunjung lainnya, S.M. (27), mengatakan cita rasa tahu Sumedang tidak berubah sejak dulu.
“Dari kecil sampai sekarang rasanya tetap sama. Itu yang bikin kangen,” katanya.
Di sisi lain, pedagang menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku, terutama kedelai. Meski demikian, mereka tetap berupaya menjaga harga jual agar tetap stabil.
Salah satu pedagang, U.S. (45), mengatakan permintaan tahu tetap tinggi, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.
“Kalau hari biasa tetap ramai, tapi kalau libur bisa dua kali lipat. Banyak yang beli untuk oleh-oleh,” jelasnya.
Ia mengakui harga bahan baku mengalami kenaikan, namun hal tersebut disiasati agar tidak berdampak pada konsumen.
“Memang bahan-bahan mahal, tapi kami siasati supaya harga tetap stabil, jadi pembeli tidak terbebani,” ujarnya.
Menurutnya, menjaga kualitas tetap menjadi prioritas utama agar pelanggan tidak beralih.
“Kedelainya harus bagus, dan cara menggorengnya juga tidak bisa sembarangan supaya tetap renyah di luar dan lembut di dalam,” tambahnya.
Dengan cita rasa khas, harga terjangkau, serta daya tahan di tengah tantangan ekonomi, tahu Sumedang terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu kuliner legendaris Indonesia(***)

