Jakarta, Memo-news.com – Indonesia menginisiasi pernyataan bersama terkait keselamatan dan keamanan para prajurit penjaga perdamaian, yang didukung negara-negara kontributor UNIFIL.
Hal ini dilakukan sebagai sikap tegas Indonesia terhadap insiden beruntun di Lebanon yang menewaskan dan melukai beberapa prajurit TNI yang tengah menjalani misi UNIFIL pada beberapa waktu lalu. Insiden itu turut melukai sejumlah personel lainnya dari Prancis, Ghana, Nepal dan Polandia.
Melansir keterangan tertulis Kemlu RI, Sabtu (11/4), sebanyak 73 negara dan observer PBB telah bergabung dalam ‘Joint Statement on the Safety and Security of Peacekeepers’.
Pernyataan bersama ini dibacakan oleh Wakil Tetap RI untuk PBB di New York, Duta Besar Umar Hadi, dalam media stakeout yang diselenggarakan bersama oleh Indonesia dan Prancis di Markas Besar PBB pada 9 April lalu. Turut hadir dalam kesempatan itu perwakilan berbagai negara, antara lain Inggris, Rusia, Cina, Pakistan, Bahrain, Spanyol, dan Malaysia.
Dalam pernyataan bersama tersebut, negara-negara kontributor UNIFIL menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya eskalasi ketegangan di Lebanon sejak 2 Maret 2026, serta dampaknya terhadap keselamatan dan keamanan personel pasukan penjaga perdamaian.
Mereka juga mengecam dengan tegas berlanjutnya serangan terhadap UNIFIL, termasuk tindakan agresif terhadap personel dan pimpinan UNIFIL dalam beberapa waktu terakhir yang tidak dapat dibenarkan.
“Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar. Kami mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menggunakan seluruh instrumen yang tersedia guna memperkuat perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian di tengah situasi yang semakin berbahaya,” tegas Hadi.
Indonesia juga terus mendorong Dewan Keamanan PBB untuk melanjutkan penyelidikan secara menyeluruh terhadap seluruh insiden yang melibatkan pasukan penjaga perdamaian. Negara-negara kontributor juga menyerukan agar seluruh pihak kembali ke meja perundingan guna mencapai penyelesaian damai. (bp)
