JAKARTA, Memo-news.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap mata uang negara-negara tetangga. Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah tercatat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Singapura (SGD) dan ringgit Malaysia (MYR).
Berdasarkan data pasar, kurs rupiah terhadap dolar Singapura berada di level Rp14.000 per SGD, melemah sekitar 0,52 persen. Angka tersebut menjadi kali pertama rupiah menembus level psikologis Rp14.000 per dolar Singapura.
Jika dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang berada di kisaran Rp12.957 per SGD, rupiah telah terdepresiasi hampir 8 persen sepanjang tahun berjalan.
Tak hanya terhadap dolar Singapura, pelemahan rupiah juga terjadi terhadap ringgit Malaysia. Pada perdagangan pagi, kurs rupiah tercatat berada di level Rp4.502 per MYR, melemah sekitar 1,01 persen dan menembus level psikologis Rp4.500 per ringgit untuk pertama kalinya.
Dibandingkan akhir tahun 2025 yang masih berada di kisaran Rp4.097 per MYR, nilai tukar rupiah telah melemah hampir 10 persen terhadap mata uang Negeri Jiran tersebut.
Kinerja Ekonomi Malaysia Jadi Penopang Ringgit
Penguatan ringgit Malaysia dinilai tidak terlepas dari kondisi ekonomi negara tersebut yang masih relatif solid. Data perdagangan Malaysia menunjukkan total nilai perdagangan pada Maret 2026 tumbuh 9,3 persen secara tahunan menjadi 273 miliar ringgit.
Ekspor Malaysia meningkat 8,3 persen menjadi 148,8 miliar ringgit, sedangkan impor naik 10,4 persen menjadi 124,2 miliar ringgit. Kondisi tersebut masih menghasilkan surplus perdagangan sebesar 24,6 miliar ringgit.
Surplus perdagangan yang konsisten dinilai membantu menjaga pasokan devisa dan mendukung stabilitas mata uang Malaysia.
Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menyebut ekonomi Malaysia masih menunjukkan ketahanan yang baik. Pertumbuhan ekonomi Malaysia pada kuartal pertama 2026 diperkirakan berada di atas 5 persen.
Selain itu, ekspor Malaysia pada kuartal pertama 2026 tercatat tumbuh 12,7 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 11 persen.
“Ekonomi Malaysia berada dalam posisi yang kuat untuk menghadapi tantangan global saat ini,” ujarnya.
Tantangan Domestik Tekan Rupiah
Sementara itu, di Indonesia, pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor domestik yang memengaruhi sentimen investor, terutama terkait kondisi fiskal pemerintah.
Pasar menaruh perhatian terhadap besarnya kebutuhan pembiayaan berbagai program pemerintah serta kemampuan menjaga disiplin fiskal di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pada 2025, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat mencapai 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), mendekati batas maksimal defisit sebesar 3 persen sebagaimana diatur dalam undang-undang.
Kondisi tersebut membuat investor semakin sensitif terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah. Di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung, kepercayaan investor menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Analis menilai kombinasi faktor eksternal dan domestik menjadi penyebab utama melemahnya rupiah terhadap sejumlah mata uang regional dalam beberapa bulan terakhir. Jika tekanan global berlanjut dan sentimen pasar belum membaik, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan menghadapi tantangan dalam waktu dekat.
