SURABAYA – Memo-news.com – Seorang ibu lansia ditemukan dalam kondisi terlantar dan sakit parah di area lantai 2 Pasar Keputran, Surabaya, pada Senin (1/6/2026). Berkat sigapnya relawan dan koordinasi cepat dengan instansi terkait, korban berhasil dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Kronologi kejadian bermula dari laporan warga sekitar pasar kepada Ketua Tim Jogoboyo, Riski Eka. Mendapati informasi tersebut, Riski langsung meluncur ke lokasi bersama anggota timnya untuk melakukan verifikasi dan pertolongan pertama.

“Kami mendapat laporan dari warga bahwa ada seorang ibu lansia yang terlihat lemah, terlantar, dan kondisinya cukup memprihatinkan di lantai 2. Setelah kami cek di lapangan, benar adanya. Beliau tampak kesakitan dan tidak mampu beraktivitas,” ujar Riski Eka saat dikonfirmasi awak media di lokasi, Senin siang.
Melihat kondisi korban yang membutuhkan penanganan medis segera, Riski Eka langsung menghubungi layanan darurat 112 Surabaya untuk meminta bantuan evakuasi medis dan koordinasi lanjutan.
Respon dari pihak berwenang terbilang sangat cepat. Tak lama setelah laporan diterima, tim TGC (Tim Gerak Cepat) Dinas Sosial Kota Surabaya bersama petugas BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Petugas gabungan langsung melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi kesehatan ibu lansia tersebut. Setelah dipastikan kondisinya stabil untuk dipindahkan, korban kemudian langsung dilarikan menggunakan ambulans ke RSUD Dr. Soetomo untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Hingga berita ini diturunkan, identitas lengkap korban serta asal-usulnya masih dalam pendalaman oleh petugas Dinas Sosial Kota Surabaya.
Ketua Tim Jogoboyo, Riski Eka, menghimbau kepada masyarakat agar lebih peka terhadap lingkungan sekitar, terutama terhadap kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. “Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk saling peduli. Jika melihat ada warga yang butuh pertolongan, jangan ragu laporkan ke 112 atau tokoh masyarakat setempat,” pungkasnya.(Miskawi/Riski)
