SURABAYA — Memonews.com– Wakil Rektor III Universitas Hang Tuah, Laksamana Pertama TNI (Purn) Dr. Toto Dwijaya Saputra, S.T., M.Si(Han)., M.Tr.Opsla., memberikan pembekalan kepada calon peserta Magang Jepang Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan (FTIK) Universitas Hang Tuah (UHT).
Dalam pembekalan tersebut, WR III UHT menekankan pentingnya kesiapan mental, kedisiplinan, etika, keselamatan kerja, serta karakter maritim yang harus dimiliki mahasiswa selama menjalani program magang di Jepang.
Menurutnya, program Magang Jepang bukan sekadar kesempatan bagi mahasiswa untuk bekerja di luar negeri. Program tersebut merupakan bagian dari pendidikan karakter dan pendidikan vokasi maritim yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa di lingkungan internasional.

“Magang di Jepang ini bukan sekadar program untuk bekerja di luar negeri. Ini adalah bagian dari pendidikan karakter dan pendidikan vokasi maritim,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Jepang memiliki pengalaman dan teknologi yang maju dalam bidang perikanan. Karena itu, mahasiswa diharapkan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempelajari teknologi dan sistem kerja yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke Indonesia.
Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman mengenai aquaculture, pengolahan hasil perikanan yang higienis, manajemen cold chain, hingga teknologi kapal perikanan modern.
Namun, Toto menegaskan bahwa ilmu teknis bukan satu-satunya bekal yang harus dibawa mahasiswa dari Jepang. Mereka juga harus belajar budaya kerja yang menjunjung tinggi disiplin waktu, kebersihan, kerja keras, tanggung jawab, dan loyalitas.
Ia memperkenalkan sejumlah nilai yang perlu diterapkan mahasiswa selama berada di Jepang, antara lain Jikan wo Mamoru atau disiplin waktu, Seiso atau menjaga kebersihan, Kinben atau bekerja keras, serta Chuugi atau loyalitas.
“Ilmu yang kalian dapatkan bukan hanya teknologi. Disiplin, kebersihan, kerja keras dan loyalitas merupakan ilmu yang nilainya lebih mahal dari ijazah,” ujarnya.
Toto juga mengingatkan bahwa mahasiswa tidak hanya membawa nama pribadi ketika berada di Jepang. Mereka membawa nama Universitas Hang Tuah, TNI Angkatan Laut dan Indonesia.
Karena itu, ia meminta seluruh peserta menjaga sikap dan menghormati budaya masyarakat Jepang. Budaya Aisatsu atau salam, Reigi atau tata krama, serta Hou-Ren-Sou yang mencakup laporan, komunikasi, dan konsultasi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun lingkungan kerja.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sapa senior dengan hormat, jaga tata krama, dan lakukan komunikasi dengan baik,” pesannya.
Selain itu, peserta diminta mematuhi kontrak kerja dan seluruh aturan yang berlaku. Toto secara tegas mengingatkan mahasiswa agar tidak terlibat persoalan hukum, narkoba, maupun perkelahian.
“Satu orang berbuat salah, semua mahasiswa Indonesia dapat terkena dampaknya. Karena itu, jangan pernah melakukan pelanggaran,” tegasnya.
Aspek kesehatan dan keselamatan kerja juga menjadi perhatian. Mengingat bidang perikanan memiliki risiko pekerjaan, mahasiswa diminta menggunakan alat pelindung diri (APD), mematuhi standar operasional prosedur (SOP), menjaga kesehatan, serta membangun komunikasi yang baik dengan pembimbing.
Toto berharap pengalaman selama Magang Jepang dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk berkontribusi terhadap kemajuan sektor perikanan Indonesia.
“Berangkatlah dengan kepala tegak. Pulanglah dengan ilmu yang penuh dan pengalaman yang matang. Jadilah pengusaha tambak, pemimpin industri perikanan, atau dosen yang mendunia,” katanya.
Ia juga meminta seluruh calon peserta mengikuti pembekalan dengan sungguh-sungguh dan menyerap seluruh materi yang diberikan oleh para narasumber sebagai persiapan sebelum berangkat ke Jepang.
Tetap semangat, tetap rendah hati, dan tetap jaya di laut. Jalesveva Jayamahe! pungkasnya.
